|
Luas Wilayah ( Ha ) |
Jumlah
Penduduk ( Jiwa ) |
Luas
Lahan Pertanian ( Ha ) |
Luas
Lahan Tidur (Ha ) |
Jumlah
Sarana |
Sanitasi |
||||||||
|
Pria |
Wanita |
Padi |
Kopi |
Kakao |
Sere Wangi |
Nilam |
Lainya |
|
Masjid |
Menasah |
Air Bersih |
MCK |
|
|
410
Ha |
1.092 |
1.230 |
35,6 |
4
Ha |
2
Ha |
54,5
Ha |
0,1 |
- |
12
Ha |
2 |
5 |
Ada |
Ada |
|
Keterangan |
Jumlah |
|
Jumlah
Jiwa |
781 |
|
Perempuan |
394 |
|
Laki-laki |
387 |
|
Balita |
56 |
|
Lansia |
45 |
Desa Agusen
Desa Agusen merupakan sebuah desa yang berada di wilayah paling ujung Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Desa ini menyimpan sejarah panjang, penuh dinamika, dan telah mengalami transformasi besar dalam beberapa dekade terakhir—dari kampung yang terasing menjadi salah satu destinasi wisata yang menjanjikan.
Asal Usul Nama dan Masa Penjajahan
Nama "Agusen" diyakini berasal dari bulan Agustus, merujuk pada masa penjajahan Belanda. Pada saat itu, kawasan ini dijadikan sebagai lokasi pembuangan bagi penderita lepra. Karena peranannya sebagai tempat isolasi, Agusen dahulu dikenal sebagai daerah yang memiliki citra kurang baik di mata masyarakat sekitar—terasing dan tidak diperhitungkan.
Perintisan dan Perkembangan Awal
Warga pertama yang menghuni kawasan Agusen sebagian besar berasal dari daerah Gele. Kehidupan mereka dimulai dari kondisi yang serba terbatas. Baru pada tahun 2003, Agusen ditetapkan sebagai desa persiapan, yang dipimpin oleh Alm. Pelin sebagai tokoh penting awal pembangunan.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2006, dilakukan pemilihan pengulu pertama. Abdul Kadir terpilih sebagai pengulu definitif pertama dan memimpin selama enam tahun. Setelah masa jabatannya berakhir, kepemimpinan dilanjutkan oleh Muhammad Kasas yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Desa, dan memimpin selama tiga tahun. Kemudian, pada tahun 2015, Bapak Ramdan terpilih sebagai pengulu, dan dipercaya oleh masyarakat untuk menjabat dua periode hingga saat ini (per 2025).
Masa Kelam: Sentra Ganja
Agusen pernah dikenal sebagai salah satu daerah dengan produksi ganja terbanyak di Aceh. Tanaman ganja tumbuh subur di lahan-lahan pertanian warga, dan menjadi sumber ekonomi utama pada masa lalu. Namun, citra ini perlahan berubah seiring dengan kesadaran masyarakat dan perhatian pemerintah terhadap potensi pertanian yang sah dan berkelanjutan.
Transformasi Menuju Desa Produktif dan Bersih Narkoba
Sejak pertengahan 2010-an, warga Agusen mulai beralih ke pertanian legal dan produktif. Kini, komoditas utama desa ini meliputi:
Kopi Arabika Gayo
Cabai merah
Kemiri
Bawang merah dan putih
Tanaman hortikultura lainnya
Langkah besar perubahan ini mendapat perhatian luas, salah satunya dari Komjen Budi Waseso yang pada tahun 2018 datang langsung ke Agusen bersama jajaran kementerian untuk melakukan penanaman kopi perdana. Momen tersebut menjadi tonggak penting bagi transformasi desa ini.
Agusen sebagai Kampung Wisata
Masih di tahun 2018, Desa Agusen resmi ditetapkan sebagai kampung wisata, berkat kekayaan alamnya yang masih sangat alami. Sungai yang mengalir di desa ini jernih dan airnya bisa langsung diminum. Udara sejuk, hutan yang masih lebat, serta potensi flora-fauna lokal menjadikan Agusen sebagai destinasi ekowisata yang potensial.
Agusen juga dikenal sebagai Kampung KB "Putri Juntik", karena keunikan anggrek liar yang tumbuh alami di batang-batang pohon. Keindahan anggrek ini menjadi simbol keharmonisan antara manusia dan alam di Agusen.
Pembagian Wilayah dan Sosial Kemasyarakatan
Desa Agusen saat ini terbagi menjadi empat dusun, yaitu:
Dusun Toa
Dusun Singah Mule
Dusun Uken
Dusun Pal 15
Masyarakatnya dikenal ramah, ulet, dan mulai aktif dalam pembangunan desa baik dari sisi infrastruktur, pendidikan, maupun pariwisata. Meski masih menghadapi tantangan seperti oknum-oknum tak bertanggung jawab, masyarakat Agusen tetap kompak dan bertekad mewujudkan desa yang:
Mandiri secara ekonomi
Bersih dari narkoba
Ramah wisata
Menjunjung tinggi nilai adat dan gotong royong
Penutup
Desa Agusen telah melalui perjalanan panjang dari masa keterasingan menuju kebangkitan sebagai desa wisata dan pertanian. Transformasi ini tidak lepas dari peran masyarakat lokal yang berani berubah, serta dukungan dari pemerintah daerah dan pusat. Kini, Agusen menjadi contoh nyata bahwa perubahan adalah mungkin, bahkan bagi desa yang pernah dipandang sebelah mata.
